
Dalam ajaran Islam, menjaga lingkungan adalah perintah yang mulia, dan penghijauan melalui menanam atau bertani adalah salah satu bentuk konkretnya. Nabi Muhammad ﷺ bahkan menggolongkan kegiatan menanam pohon sebagai sedekah.
Sedekah Lewat Pohon: Dalil dari Rasulullah SAW
Rasulullah ﷺ secara tegas menyatakan keutamaan menanam pohon dalam hadits berikut:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
Artinya: “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali baginya dengan tanaman itu adalah sedekah.” (HR Bukhari)
Hadits ini menunjukkan bahwa setiap buah, daun, atau bagian dari tanaman yang kita tanam, yang dimanfaatkan oleh siapa pun—baik manusia, hewan, atau bahkan burung—akan menjadi pahala sedekah bagi penanamnya.
Dua Pertimbangan Utama Penghijauan dalam Al-Qur’an
Selain hadits, Al-Qur’an juga memberikan dua landasan kuat mengapa kita harus giat melakukan penghijauan:
1. Pertimbangan Manfaat: Sumber Kehidupan
Al-Qur’an menegaskan bahwa alam diciptakan dengan beragam manfaat bagi kehidupan kita. Surah ‘Abasa ayat 24-32 menjelaskan bagaimana Allah menyediakan makanan bagi manusia dan hewan ternak melalui proses penciptaan tumbuhan:
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ (٢٤) أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا (٢٥) ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا (٢٦) فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (٢٧) وَعِنَبًا وَقَضْبًا (٢٨) وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا (٢٩) وَحَدَائِقَ غُلْبًا (٣٠) وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (٣١) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (٣٢)
Artinya: “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit). Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya. Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu. Anggur dan sayur-sayuran. Zaitun dan pohon kurma. Kebun-kebun (yang) lebat. Dan buah-buahan serta rumput-rumputan. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”
Ayat ini adalah dalil kuat bagi kita untuk terus menanam, menghijaukan bumi, dan mengambil manfaat yang luas dari hasil tanaman untuk kemaslahatan banyak orang.
2. Pertimbangan Keindahan: Penyejuk Hati
Selain manfaat fungsional, Al-Qur’an juga menyoroti aspek estetika atau keindahan alam. Surah An-Naml ayat 60 menggambarkan keindahan kebun-kebun yang diciptakan Allah:
أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ (٦٠)
Artinya: “Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).”
Ungkapan “kebun-kebun yang berpemandangan indah” menunjukkan bahwa alam yang hijau dan asri menyejukkan jiwa, mata, dan hati saat memandangnya. Ini menjadi penguat untuk terus menanam dan menghijaukan bumi demi keindahan yang dapat dinikmati semua.
Mari Beraksi untuk Bumi Kita!
Dalil-dalil dari Hadits dan Al-Qur’an ini bukan hanya sekadar teori, tetapi motivasi kuat bagi kita untuk mulai menanam dan menghijaukan bumi yang telah Allah amanahkan. Setiap pohon yang kita tanam adalah langkah nyata dalam menjaga rahmat Allah dan meraih pahala dari-Nya.